KLIK DI SINIUntuk Pasang Iklan

Belajar Aktif

loading...

 Belajar Aktif

Untuk menangulangi masalah pendidikan yang ada, salah satu cara yang dapat  diterapkan adalah pendekatan belajar aktif. Melalui pendekatan ini diharapkan peserta didik memiliki bekal kemampuan kreatif dan inovatif serta berbudaya yang pada pada akhirnya  menggambarkan karakter bangsa. Melalui upaya ini, kita berusaha menciptakan citra baru tentang satuan pendidikan berprestasi sebagai sekolah yang mampu membuat para peserta didiknya kreatif dan inovatif, berbudaya serta mampu menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan yang kesemuanya itu merupakan pengembangan karakter bangsa yang diinginkan bersama.

Penerapan pendekatan belajar aktif yang ditunjang pelaksanaan manajemen berbasis sekolah memiliki dasar hukum yang bersumber dari Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Perundang-undangan ini selanjutnya dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan berikut ini.

  1. Proses belajar-mengajar pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan minat, bakat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (Pasal 19, Ayat 1).Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas. (Pasal 49, butir 1).
  2. Pendekan Belajar Aktif pada daarnya dipengaruhi teori belajar aliran konstruktivisme. Pada teori belajar ini memantapkan teori-teori belajar sebelumnya dan memberikan pencerahan bagi peralihan dari konsep belajar yang berpusat pada guru (teacher-centred learning) ke arah konsep belajar yang berpusat pada peserta didik (student-centred learning). Orientasi yang berpusat kepada peserta didik pada akhirnya diwujudkan dalam pendekatan belajar aktif (active learning approach). Ini adalah paradigma yang mempengaruhi beragam inovasi pendidikan yang dilakukan di berbagai penjuru dunia sejak awal tahun 1970 hingga sekarang.

Teori-teori belajar yang ada pada akhirnya berkulminasi pada teori konstruktivisme. Teori konstruktivisme pada dasarnya:

  1.  Menyesuaikan aplikasi teori dengan cara kerja otak seperti yang dilaporkan oleh temuan riset neurosains.
  2.  Mengadopsi hasil riset biologi tentang cara kerja tubuh.
  3. Mengadopsi temuan riset fisika tentang alam semesta yang bersinergi sebagai satu sistem
  4. Menyelaraskan aplikasi nilai-nilai dan pandangan historis, kultural, dan sosial, terutama melalui bahasa, dalam penerapan belajar aktif, baik dari hasil riset ilmu-ilmu sosial maupun dari segi konsepsi filsafat, teologi agama, dan humaniora.
  5. Mengadaptasi temuan dan praksis yang relevan dari dunia kerja.

Penerapan teori belajar konstruktivisme secara kumulatif tampil dalam istilah active learning (belajar aktif). Temuan teori lanjutan dan hasil uji coba penerapan dalam proses belajar-mengajar tampil dengan beragam istilah, seperti brain-based learning, multiple intelligences learning approach, cooperative learning, contextual teaching and learning, dan quantum learning. Penerapannya sebenarnya hanya menekankan salah satu aspek, unsur, atau bidang khusus belajar aktif. Hampir semuanya bernaung di bawah paradigma belajar aktif.

Ada 5 teori belajar yang berkembang, yaitu teori behaviorisme, teori kognitivisme, teori rekonstruktivisme, teori belajar informal dan post-modern, dan teori-teori belajar yang lain. Dari teori behaviorisme dan teori kognitivisme, pendekatan belajar aktif yang dikembangkan menurut teori rekonstruktivisme mengadopsi gagasan-gagasan yang relevan dengan tuntutan dan prasyarat pendekatan belajar aktif ini.

Gagasan-gagasan pokok pendekatan belajar aktif pada prinsipnya mengikuti gagasan inti teori belajar konstruktivisme. Perkembangan dalam terapan melahirkan paradigma baru, yaitu paradigma belajar aktifSejumlah gagasan pokok dalam penerapan paradigma belajar aktif dikemukakan berikut ini.

1.Mengkonstruksi Makna

Konstruktivisme menandaskan bahwa manusia mengkonstruksi (membangun) makna dari struktur pengetahuan aktual yang dimiliki. Teori ini membimbing pendekatan dalam mendidik anak. Konstruktivisme menekankan kegiatan belajar yang berkembang melalui dukungan fasilitator. Fasilitator memulai dan mengarahkan peserta didik agar  mampu mengkonstruksi makna konsep-konsep yang baru.

2. Pentingnya Latar belakang dan Budaya Peserta Didik

Konstruktivisme sosial memandang setiap peserta didik sebagai individu yang unik dengan kebutuhan dan latar belakang yang unik. Peserta didik juga dilihat sebagai individu yang kompleks dan multidimensional. Konstruktivisme sosial tidak hanya mengakui keunikan dan kompeksitas peserta didik tetapi juga benar-benar mendorong, menggunakan, dan memberikan penghargaan kepadanya keunikan dan kompleksitas sebagai bagian integral proses belajar (Wertsch 1997).

Konstruktivisme sosial mendorong peserta didik mencapai versinya sendiri tentang kebenaran, yang dipengaruhi latar belakang dunia fisik, lingkungan budaya, atau pandangannya tentang dunia. Perkembangan historis dan sistem simbol, seperti sistem bahasa, logika, dan matematika, diwarisi peserta didik sebagai warga budaya tertentu dan hal ini dipelajarinya sepanjang hayatnya. Ia juga menekankan pentingnya hakikat interaksi sosial peserta didik dengan warga masyarakat yang terdidik. Tanpa interaksi sosial itu, tak mungkin tercapai makna sosial dari sistem simbol yang penting dan belajar bagaimana menggunakannya. Anak kecil mengembangkan kemampuan berpikirnya melalui interaksi dengan anak-anak yang lain, orang dewasa, dan dunia fisik. Pentinglah memperhatikan latar belakang dunia fisik dan lingkungan budaya dan sosial peserta didik melalui proses belajar, karena latar belakang ini juga membantu membentuk pengetahuan dan kebenaran yang diciptakan, ditemukan, dan dicapai peserta didik dalam proses belajar (Wertsch, 1997).

3. Tanggung Jawab Belajar adalah Peserta didik dan Peserta Didik menjadi Peserta Didik Pembelajar atau Peserta Didik pengajar

Tanggung jawab belajar selalu harus semakin bergantung kepada peserta didik dan  ditekankan agar peserta didik mengkonstruksi pengertian atau konsepnya sendiri.  Untuk itu, perlu ditempuh pemberian peran kepada peserta didik menjadi peserta didik pembelajar atau peserta didik pengajar. Jika peserta didik “mengajar” teman-temannya, misalnya sebagai tutor sebaya, ia akan menjadi sangat aktif  untuk mempersiapkan diri agar mampu mengajar teman-temannya, misalnya melalui usaha memahami materi/kompetensi yang akan diajarkan.

Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mencerminkan dan merefleksikan apa yang dibaca. Peserta didik mencari makna dan akan mencoba menemukan regularitas dan keteraturan dalam berbagai peristiwa dunia, bahkan walaupun informasi belum lengkap (Von Glasersfeld, 1989)

4. Motivasi Belajar

Motivasi belajar peserta didik amat bergantung kepada rasa percaya diri atau potensi belajarnya (Von Glasersfeld, 1989) dan kemampuan guru mengantar peserta didik mengenali bakat dan potensi dirinya (motivasi ekstrinsik) sehingga tumbuh keyakinan untuk percaya kepada keunikan dirinya dan mampu mengekspresikannya (motivasi intrinsik, Champion Mind).

Perasaan kompeten dan kepercayaan kepada potensi memecahkan masalah baru berasal dari pengalaman pertama menguasai masalah di masa lampau dan lebih kuat daripada pengakuan eksternal dan motivasi ekstrinsik mana pun (Prawat and Floden, 1994). Ini berkaitan dengan pandangan Vygotsky (1978) tentang zona perkembangan terdekat (zone of proximal development), di mana anak ditantang untuk sedikit melangkah maju dari tingkat perkembangannya sekarang. Melalui pengalaman sukses menyelesaikan tugas yang menantang, anak memperoleh rasa percaya diri dan motivasi untuk menghadapi tantangan yang lebih kompleks.

Menurut pandangan Rousseau (1762) … masalah pendidikan yang terbanyak adalah masalah motivasi, karena para guru mencoba mempercepat berbagai hal. Mereka berbicara tentang geografi sebelum anak tahu jalan di sekitar belakang rumahnya. Mereka mengajar sejarah sebelum anak mengerti sesuatu tentang motivasi orang dewasa…. Akan jauh lebih baik, membiarkan pertanyaan-pertanyaan muncul secara alamiah …. Bila seorang anak telah termotivasi sendiri, guru tidak dapat menahan dia belajar. (Dikutip dari The Rise and Fall of Childhood, oleh C. John Sommerville, 1990).

Sembilan per sepuluh pendidikan adalah memberi dorongan. (Anatole France 1844-1924).

5. Peran Pengajar

Menurut pendekatan konstruktivisme sosial, instruktur harus mengadaptasi peran fasilitator dan bukan peran sebagai guru.

6. Hakikat Proses Belajar

Belajar adalah proses aktif peserta didik menemukan fakta, prinsip, dan konsep sendiri. Untuk itu, pentinglah mendorong peserta didik berasumsi (menebak atau berhipotesis) dan berpikir secara intuitif (Brown dkk., 1989; Ackerman, 1996). Dalam kenyataan, realitas bukanlah sesuatu yang dapat ditemukan karena tidak ada sebelumnya. Kukla (2000) membuktikan bahwa realitas dikonstruksi oleh kegiatan individu sendiri dan bahwa orang-orang, bersama-sama sebagai warga suatu masyarakat, menemukan ciri-ciri realitas (dunia).

Penganut konstruktivisme yang lain setuju dan menekankan bahwa individu membangun makna melalui interaksi satu sama lain dan dengan lingkungan tempat mereka hidup. Dengan demikian, pengetahuan adalah produk manusia dan dikonstruksi secara sosial dan budaya (Ernest, 1991; Prawat and Floden, 1994). McMahon (1997) setuju bahwa belajar adalah suatu proses sosial. Ia menyatakan bahwa belajar bukanlah proses yang hanya terjadi dalam pikiran individu, bukanlah suatu perkembangan perilaku yang pasif yang dibentuk oleh kekuatan eksternal. Belajar yang bermakna terjadi ketika individu terlibat dalam aktivitas sosial.

Vygotsky (1978) juga menekankan konvergensi elemen-elemen sosial dan praktis dalam belajar. Momen yang amat signifikan dalam lintasan perkembangan intelektual terjadi ketika berbicara (speech) dan kegiatan praktik, dua jalur perkembangan yang sebelumnya sepenuhnya tak saling tergantung (independen), berkonvergensi. Melalui kegiatan praktik peserta didik mengkonstruksi makna dalam dirinya (pada tingkat intrapribadinya), sedangkan berbicara menghubungkan makna ini dengan dunia antarpribadi yang di-share oleh peserta didik dan budayanya.

Teori Experiential Learning Kolb menjelaskan konsep mendasar sehingga perilaku belajar manusia dapat dipahami dan diterangkan. Pemahaman ini dapat membantu peserta didik atau orang lain dalam belajar. Teori ini diterima di berbagai kalangan, baik akademisi, guru, manajer maupun pelatih.

Kolb memaparkan 6 ciri khas experiential learning:

  1. Belajar paling baik dipandang sebagai suatu proses, bukan sebagai hasil belajar (outcomes).
  2. Belajar adalah suatu proses berkesinambungan berdasarkan pengalaman.
  3. Belajar menuntut resolusi konflik antara dua cara adaptasi terhadap dunia yang bertentangan secara dialektik (diperdebatkan).
  4. Belajar adalah suatu proses holistik adaptasi terhadap dunia.
  5. Belajar melibatkan transaksi antara pribadi dan lingkungan.
  6. Belajar adalah suatu proses menciptakan pengetahuan, yang merupakan hasil transaksi antara pengetahuan sosial dan pengetahuan personal.

Sumber : Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif, Kementrian Pendidkian Nasional Badan Penelitian Dan Pengembangan Tahun 2009

Share

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *