KLIK DI SINIUntuk Pasang Iklan

MODEL PEMBELAJARAN

loading...

model-model-pembelajaran

Pengertian Model Pembelajaran

Apabila antara pendekatan, strategi, metode dan teknik pembelajaran sudah terangkai atau menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah model pembelajaran. Jadi model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru, dengan kata lain model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Pendekatan pembelajaran merupakan titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinyanya suatu proses yang sifatnya umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi dan menguatkan. Ada 2 jenis pendekatan pembelajaran yaitu: pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student contered approach) dan pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada guru (teacher contered approach).Baca selengkapnya…

Dari pendekatan pembelajaran selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmum, 2003) mengemukakan ada 4 rumusan strategi dari setiap usaha yaitu:

1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil dan sasaran (target).

2. Mempertimbangkan dan memilih pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai tujuan.

3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah yang tempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.

4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolak ukur serta patokan ukuran (standar) untuk mengukur taraf keberhasilan.

Menurut Wina Sanjaya strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.

Metode pembelajaran (Wina Sanjaya, 2008) merupakan cara yang digunakan untuk merealisasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Contoh: ceramah, debat, pengalaman, dan lain-lain.

Teknik pembelajaran merupakan cara yang dilakukan seseorang untuk menerapkan suatu metode secara spesifik.

Contoh: diskusi pada kelas yang siswanya aktif tentu berbeda metodenya dengan diskusi pada kelas yang tidak aktif.

Macam-macam Model Pembelajaran

Ada beberapa model pembelajaran yaitu: sebagai berikut:

1. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

Model pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dirancang untuk pembelajaran kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill.

Falsafah yang menjadi dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah:

1. Manusia sebagai mahluk sosial.

2. Gotong royong.

3. Kerjasama merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan manusia.

Unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif

1. Mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh, antar sesama sebagai latihan hidup bermasyarakat.

2. Saling ketergantungan positif anar individu (tiap individu mempunyai kontribusi dalam mencapai tujuan).

3. Tanggung jawab secara individu.

4. Temu muka dalam proses pembelajaran.

5. Komunikasi antar anggota kelompok.

6. Evaluasi proses pembelajaran kelompok.

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah:

1. Kelompok dibentuk dengan siswa kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

2. Siswa dalam kelompok sehidup semati.

3. Siswa melihat semua anggota mempunyai tujuan yang sama.

4. Membagi tugas dan tanggung jawab sama.

5. Akan dievaluasi untuk semua.

6. Berbagai kepemimpinan dan keterampilan untuk bekerja bersama.

7. Diminta mempertanggungjawabkan individual materi yang ditangani.

Langkah-langkah umum pembelajaran kooperatif adalah:

1. Berikan informasi dan sampaikan tujuan serta skenario pembelajaran.

2. Diorganisasikan siswa/peserta didik dalam kelompok kooperatif.

3. Bimbing siswa untuk melakukan kegiatan.

4. Evaluasi.

5. Memberi penghargaan.

Jenis-jenis pembelajaran kooperatif:

1. Tipe STAD (student achievement divisions) yaitu siswa atau peserta didik dikelompokkan dalam proses pembelajaran (Slavin, 1995).

Langkah-langkah STAD adalah:

1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut jenis kelamin, suku,prestasi, dan lain-lain).

2. Guru menyajikan pelajaran.

3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok (anggotanya yang tahu menjelaskan anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok mengerti).

4. Guru memberi kuis atau pertanyaan kepada seluruh siswa.

5. Memberi evaluasi.

6. Kesimpulan.

2. Tipe TGT (team game tournament)

Pada dasarnya tipe pembelajaran TGT sama dengan tipe STAD, hanya saja pada TGT terdapat modifikasi pada evaluasi yang dilakukan menggunakan tournament yang fungsinya untuk memberikan motivasi kepada siswa.

3. Tipe Jigsaw (tim ahli/expert group)

(Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, and Snapp, 1978). Langkah-langkah tipe Jigsaw.

1. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim.

2. Tiap orang dalam tim diberikan materi yang berbeda.

3. Tiap orang di dalam tim diberikan bagian materi yang ditugaskan.

4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/ sub bab yang sama bertema dengan kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka.

5. Setelah selesai diskusi dengan team ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

6. Tiap team ahli mempresentasikan hasil diskusi.

7. Guru memberi evaluasi.

8. Penutup.

4. Tipe KI (Kelompok Investigasi)

Langkah-langkah model ini adalah:

1. Kemukakan masalah/pertanyaan dari hasil pengamatan.

2. Kegiatan kelompok kooperatif untuk menjawab masalah-masalah (pengamatan lebih lanjut atau eksperimen).

3. Melaporkan hasil kegiatan kelompok berupa produs atau presentasi.

4. Penghargaan kelompok.

5. Tipe NHT (Numbered Head Together) atau Kepala Bernomor) oleh Spencer Kagan (1992).

Yaitu guru memberi tugas, kemudian hanya siswa bernomor saja yang berhak menjawab (mencegah dominasi siswa tertentu).

Langkah-langkag NHT adalah:

1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.

2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.

3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.

4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.

5. Tanggapan dari teman-teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.

6. Kesimpulan

6. Kepala Bernomor Struktur (KBS)

Merupakan modifikasi dari number head together.

Langkah-langkah KBS adalah:

1. Siswa dibagi dalam kelompok dan setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.

2. Penugasan diberi kepada setiap siswa berdasarkan nomor terhadap tugas berangkai.

Contoh:

Siswa nomor satu bertugas mencatat soal.

Siswa nomor dua mengerjakan soal.

Siswa nomor tiga melaporkan hasil kegiatan dan seterusnya.

3. Jika perlu guru menyuruh kerjasama antar kelompok. Siswa disuruh keluar dari kelompok dan bergabung dengan beberapa siswa yang bernomor sama.

4. Melaporkan hasil dan tanggapan dari kelompok lain.

5. Merumuskan simpulan.

7. Think-Pair-Share (Frank Lyman, 1985)

– Think (berpikir): memberi kesempatan kepada siswa untuk mencari jawaban tugas secara mandiri.

– Pairing (berpasangan): bertukar pikiran dengan teman sebangku.

– Sharing (berbagi): berdiskusi dengan pasangan lain (menjadi 4 siswa).

Langkah-langkah think-pair-share adalah:

1. Guru menyampaikan topik inti dan kompetensi yang ingin dicapai.

2. Siswa diminta untuk berpikir tentang topik materi/ permasalahan yang disampaikan guru secara individual.

3. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelumnya (kelompok 2 orang dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing tentang topik tadi.

4. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok pasangan mengemukakan hasil diskusinya untuk berbagi (share) dengan seluruh siswa di kelas.

5. Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkap para siswa.

6. Guru memberi kesimpulan.

7. Penutup.

8. Tipe Mind Mapping (MM) atau Concept Mapping (CM)

Tipe ini bermaksud agar siswa lebih terampil untuk menggali pengetahuan awal yang sudah dimiliki dan memperoleh pengetahuan baru sesuai dengan pengalaman belajar.

Langkah-langkah adalah:

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

2. Guru mengemukakan konsep/permasalahan utama atau major konsep/permasalahan tersebut mempunyai sub konsep atau alternatif jawaban.

3. Membuat kelompok diskusi yang anggotanya 2-3 orang.

4. Tiap kelompok mencatat sub konsep/alternatif jawaban hasil diskusi.

5. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat dipapan dan mengelompokkan sesuai dengan kebutuhan guru.

6. Dari data-data dipapan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberikan bandingan sesuai dengan konsep yang disediakan guru.

9. Tipe Snowball Thorowing (ST)

Langkah-langkahnya adalah:

1. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.

2. Guru membentuk kelompok dan memanggil ketua kelompok untuk melakukan penjelasan tentang materi.

3. Masing-masing kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan guru kepada teman-temannya.

4. Masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menulis satu pertanyaan yang menyangkut materi yang dijelaskan oleh ketua kelompok.

5. Kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lainnya selama ± 15 menit.

6. Setelah siswa dapat satu bola, satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola secara bergantian.

7. Evaluasi.

8. Penutup.

10. Dua Tinggal, Dua Tamu (Duti-Duta)

Ciri-cirinya adalah:

1. Satu kelompok beranggota 4 siswa.

2. Beri tugas untuk berdiskusi.

3. Setelah selesai dua siswa ketemu kelompok lain.

4. Dua siswa yang tinggal menginformasikan hasil diskusinya kepada dua temannya.

5. Tamu kembali ke kelompok dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.

11. Time Token (TITO)

Model ini menggunakan kartu, dengan langkah-langkahnya adalah:

1. Semua siswa diberi “kartu bicara”.

2. Di dalam kelompok siswa sudah menyampaikan pendapat harus menyerahkan satu kartunya.

3. Demikian seterusnya, sampai siswa yang habis kartunya tidak berhak bicara lagi.

12. Debate

Yaitu suatu metode pembelajaran, tetapi dalam implementasinya dapat dikaitkan dengan pembelajaran cooperative learning apabila dalam implementasinya aplikasinya menggunakan kelompok.

Langkah-langkahnya adalah:

1. Guru membagi 2 kelompok peserta debat, yang satunya kelompok pro dan yang lainnya kelompok kontra.

2. Guru memberi tugas untuk membaca materi yang akan didebatkan oleh kedua kelompok.

3. Guru menunjuk salah satu anggota kelompok pro untuk berbicara yang ditanggapi oleh kelompok kontra.

4. Siswa menyampaikan gagasannya, dan guru menulis inti atau ide-ide setiap pembicaraan dipapan tulis.

5. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap.

6. Dari data yang ditulis dipapan tulis, guru mengajak siswa untuk membuat kesimpulan yang mengacu pada topik yang dibicarakan.

13. Tipe Picture and Picture (PP)

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Guru menyimpulkan kompetensi yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran.

2. Guru menyajikan materi sebagai penghantar.

3. Guru menunjukkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan kompetensi/materi.

4. Guru menunjukkan siswa secara bergantian untuk mengurut gambar-gambar yang menjadi urutan sistematis dan logis.

5. Guru menanyakan alasan urutan gambar tersebut.

6. Berdasarkan alasan urutan gambar tersebut guru menanamkan konsep/materi sesuai dengan materi yang ingin dicapai.

7. Guru menyimpulkan dan merangkum.

14. Cooperative Integreted Reading and Composition (CIRC) (Steven and Slavin, 1995)

Langkah-langkahnya:

1. Membentuk kelompok dari 4 orang secara heterogen.

2. Guru memberi wacana/kliping sesuai topik pembelajaran.

3. Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping yang ditulis pada lembaran kertas.

4. Mempresentasikan hasil kelompok.

5. Guru membuat kesimpulan bersama.

6. Pembelajaran ditutup.

15. Student Fasilitator and Expailing (SFE)

Langkah-langkahnya adalah:

1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

2. Guru mempresentasikan materi.

3. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menjelaskan kepada siswa lain baik melalui bagan atau peta konsep.

4. Guru menyimpulkan pendapat atau ide siswa.

5. Guru menerangkan/merangkum semua materi yang dipresentasikan.

6. Penutup.

16. Cooperative Script (CS) (Denserou, dkk, 1985 dalam Riyanto, 2003)

Langkah-langkahnya yaitu:

1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.

2. Guru membagikan wacana/materi tiap-tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.

3. Guru dan siswa menetapkan siswa yang pertama berperan sebagai pembicara dan pendengar.

4. Pembicara membacakan ringkasan selengkap mungkin dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar:

a. Menyimak/mengoreksi/melengkapi ide-ide pokok yang kurang lengkap.

b. Membantu mengingat dan menghafal ide-idel pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lain.

5. Bertukar peran, yang semula sebagai pembicara ditukar sebagai pendengar dan sebaliknya.

6. Merumuskan simpulan bersama siswa dan guru.

7. Penutup.

2. Model Pembelajaran Langsung (Direct Learning)

Metode pembelajaran ini menekankan pembelajaran yang didominasi oleh guru. Peran guru yang dimaksud adalah:

1. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dikuasai siswa dan tujuan pembelajaran.

2. Guru mendemonstrasikan pengetahuan/keterampilan dengan benar atau menyajikan kinformasi tahap demi tahap.

3. Guru merencanakan dan memberikan bimbingan latihan awal.

4. Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik.

5. Guru memberikan persiapan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dengan perhatian khusus (Soeparman Kardi dan Mohamad Nur, 1999:8).

3. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Base Learning/PBL)

Model pembelajaran berbasis masalah yaitu memfokuskan kepada siswa dengan mengarahkan siswa menjadi pembelajar yang mandiri dan terlibat langsung secara aktif dalam pembelajaran kelompok, yang mengembangkan berfikir siswa dalam mencari pemecahan masalah melalui pencarian data sehingga diperoleh solusi secara rasional dan autentik.

Langkah-langkah model pembelajaran ini yaitu:

1. Guru mempersiapkan dan melempar masalah kepada siswa.

2. Membentuk kelompok kecil, dalam masing-masing kelompok siswa mendiskusikan masalah tersebut dengan memanfaatkan pengetahuan/keterampilan yang dimiliki. Siswa membuat rumusan masalah dan hipotesis-hipotesis.

3. Siswa mencari (hunting) informasi dan data yang berhubungan dengan masalah yang sudah dirumuskan.

4. Siswa berkumpul dalam kelompok untuk melaporkan data apa yang sudah diperoleh dan mendiskusikan.

5. Kegiatan diskusi penutup sebagai kegiatan akhir apabila memperoleh solusi yang tepat.

4. Model Pembelajaran Pemerosesan Informasi (Liliasari, 1997)

Model pembelajaran pemerosesan informasi berpusat pada aktivitas siswa secara mental untuk membangun pengetahuannya dengan cara mengembangkan kemampuan berpikir.

Ada 7 model yang termasuk rumpun model pemerosesan informasi (Joyce,1992) adalah:

a. Model berpikir induktif

Tujuannya untuk pembentukan kemampuan berpikir induktif dan penalaran atau pembentukan teori.

b. Model latihan inkuiri

Tujuannya untuk melibatkan siswa berpikir sebab akibat dan melatih mengajukan pertanyaan secara lancar.

c. Pemerolehan konsep (concept attainment)

Tujuan untuk mengajar pembentukan konsep.

d. Ingatan (memori)

Untuk meningkatkan kapasitas mengingat dan menerima informasi.

e. Perkembangan kognitif

Untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan pengembangan intelektual khusus berpikir logis.

f. Pengorganisasian (advance organizer)

Untuk meningkatkan kemampuan mengelola informasi dalam kapasitas membentuk dan menghubungkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah ada.

g. Sinektik

Untuk meningkatkan berpikir kreatif.

5. Model Sembilan Peristiwa Belajar

Sembilan peristiwa pembelajaran adalah aktivitas-aktivitas belajar menurut Gagne.

Kesembilan peristiwa pembelajaran yang ada setiap fase belajar yaitu sebagai berikut:

a. Membangkitkan perhatian

Kegiatan paling awal dalam pembelajaran adalah membangkitkan perhatian siswa agar mampu mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir pelajaran, yang dapat dilakukan dengan memberi rangsangan sesuai dengan kondisi yang ada.Contoh: gerak badan, perubahan suara, dan lain-lain.

b. Memberitahukan tujuan pembelajaran pada siswa

Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa bertujuan agar siswa mempunyai penghargaan dan tujuan selama belajar. Keuntungan menjelaskan tujuan adalah agar siswa dapat menjawab sendiri pertanyaan apa ia telah belajar? Apakah materi pelajaran sudah dikuasai.

c. Merangsang ingatan pada materi prasyarat

Dengan pengetahuan awal yang ada di memori kerjanya diharapkan siswa siap untuk membuat hubungan antara pengetahuan lama dengan pengetahuan yang akan dipelajari.

d. Menyajikan bahan perangsang

Bahan perangsang yang disajikan berupa pokok-pokok yang penting yang bersifat kunci. Sebelumnya guru harus menentukan bahan yang akan disajikan, apakah informasi verbal, keterampilan intelektual atau belajar sikap.

e. Memberi bimbingan belajar

Bimbingan belajar diberikan dengan tujuan untuk membantu siswa agar mudah untuk mencapai tujuan pembelajaran. Contoh: bila siswa harus menguasai konsep-konsep kunci, beri cara untuk mengingat konsep-konsep tersebut.

f. Menampilkan unjuk kerja

Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah siswa sudah mencapai kemampuan yang diharapkan maka mintalah mereka untuk menampilkan kemampuan dalam bentuk tindakan yang dapat diamati oleh guru.

g. Memberi umpan balik

Untuk mendapat hasil yang terbaik umpan balik diberikan secara informatif dengan cara memberi keterangan tingkat unjuk kerja yang telah dicapai oleh siswa.

h. Menilai unjuk kerja

Bertujuan untuk menilai apakah siswa sudah mencapai tujuan atau belum.

i. Meningkatkan retensi

Peristiwa pembelajaran terakhir yang dilakukan guru adalah upaya meningkatkan retensi dan alih belajar. Misalnya: memberikan latihan-latihan.

6. Model Pembelajaran “Discovery Learning” (Penemuan) (Teori Belajar Kognitif dari Bruner)

Model pembelajaran penemuan adalah proses belajar yang mana guru harus mampu menciptakan situasi belajar yang problematis, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan, mendorong siswa mencari jawaban sendiri dan melakukan eksperimen.

Tahapan-tahapan penerapan belajar penemuna adalah sebagai berikut:

1. Stimulus (pemberian rangsangan)

Yaitu dengan memberi pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, menganjurkan dan mendorong untuk membaca buku dan aktivitas belajar lainnya.

2. Problem statement (mengidentifikasi masalah)

Yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan merumuskan dalam bentuk hipotesis.

3. Data collection (pengumpulan data)

Yaitu memberi kesempatan kepada siswa mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis.

4. Data processing (pengolahan data)

Yaitu mengolah data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan lain-lain kemudian ditafsirkan.

5. Verifikasi

Yaitu mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis yang ditetapkan. Mengolah data yang diperoleh melalui wawancara, observasi dan lain-lain kemudian ditafsirkan.

6. Generalisasi

Yaitu menjadikan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum yang berlaku untuk semua kejadian dengan memperhatikan hasil verifikasi (Muhibbin Syah, 1995, hal. 245).

7. Pembelajaran Tematik

Pendekatan tematis atau pendekatan terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menyatupadukan serangkaian pengalaman belajar sehingga terjadi saling berhubungan satu dengan yang lainnya dan berpusat pada sebuah pokok atau persoalan. Pembelajaran tematik dilakukan pada anak TK dan SD kelas 1, 2, dan 3.

Pada tahap perencanaan guru (atau beberapa guru) menentukan tema atau topik yang akan dikembangkan dalam pembelajaran. Dari tema tersebut guru membuat jaringan yang digambarkan dengan garis-garis dari beberapa mata pelajaran. Contoh: tema hujan, jaringannya mata pelajaran sains bahasa Indonesia, matematika, keterampilan, dan lain-lain.

8. Model Pembelajaran Inquiri

Inquiri berasal dari bahasa Inggris “Inquiey” secara harfiah berarti pendidikan. Piaget mengemukakan metode inquiri merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas, dan ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari jawaban sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain dan membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan peserta didik yang lain.

Langkah-langkah pembelajaran inquiri:

1. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena alam.

2. Merumuskan masalah yang ditemukan.

3. Merumuskan hipotesis.

4. Merancang dan melakukan eksperimen.

5. Menyimpulkan dan menganalisis data.

6. Menarik, kesimpulan dan mengembangkan sikap ilmiah, yakni: objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, berkemauan, dan tanggung jawab.

Share

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *